“Any fool can make things bigger, more complex, and more violent. It takes a touch of genius — and a lot of courage — to move in the opposite direction.”

— Albert Einstein

 

 

M

erusak semangat membaca itu mudah.
Masuk-masukin aja itu huruf, kata-kata, angka, kalimat, dan gambar ke dalam ruang membaca. Semakin bertumpuk semakin oke, semakin padat semakin mantap.

Tak usahlah membuang-buang waktu untuk memikirkan apakah yang orang lain lakukan melalui hal semacam itu baik untuk ditiru atau tidak. Buang saja semuanya.

Anggap ruang membaca sebagai liang lahat. Tak perlu ada ruang terbuka[1], dengan ukuran yang mencukupi. Karena buat apa tho? dalam liang lahat, tak ada yang perlu bernafas.

Sebelum atau sesudahnya boleh juga itu teks atau gambar diwarna-warnai. Dibengkak-bengkakin, direnggang-renggangin. Apapun yang terlihat rumit dan menurut pikiran yang rumit tersebut; mengesankan. Hasilnya pasti bakal menarik. Liang lahat membaca yang menarik.

Dan boleh juga diberikan pidato-pidato, pesan-pesan, atau teori mengenai itu ini. Yang intinya adalah pembenaran supaya yang dilakukan terlihat pintar, setimpal dengan biayanya, atau sudah sepatutnya seperti itu –normal. Tapi seperti apapun itu pidato-pidato dan ceramah-ceramahnya, itu adalah pidato atau ceramah pemakaman. Tak lebih dan tak kurang.

 

 

Merangsang semangat membaca? naah ini baru sulit.

Sulit karena sejak pertama harus mau beranggapan bahwa komponen-komponen yang disusun disitu bukan hendak dimasukin ke dalam liang lahat. Nggak bisa asal gebrus.

Teks, dan gambar perlu diberikan ruang untuk bernafas. Yang mencukupi. Sehingga makna bisa dialirkan, dan menghidupkan pembaca. Juga harus mau mengusahakan agar tak terbebani sampah. Karena sampah visual distraksi. Itu adalah beban yang menggerogoti.

Itu berarti, bila kemudian berbagai elemen grafis ini akan diwarnai, warna harus bisa dianggap mengaliri hal yang hidup. Jangan terlalu banyak dong, ntar mati. Secukupnya saja.

Juga bila hendak direnggangin. Dipertebal satu bagian supaya lebih kelihatan. Digede-kecilin. Ya bisa banget. Tapi musti tahu diri-lah, kalau kebanyakan itu kan persis seperti mau masukin barang ke liang lahat.

Menumbuhkan dan mempertahankan semangat membaca sungguh hal yang sulit karena ini bukan perilaku “mainstream”.

Yang mainstream, atau “pasaran” (berorientasi pasar, tapi dalam konteks ini bisa juga diartikan sebagai semacam peralatan pemakaman) adalah berperan sebagai penggali makam yang bergaya:

 

“Ngapain lama-lama ngurus yang begituan cuy?. Buang saja!. Times is money. Lu pikir gaya hidup lu itu gratis?.”

 

 

Intinya. Menulis, dan merancang grafis bisa diperlakukan sebagai bentuk penghargaan dan usaha untuk menumbuhkan kehidupan, atau menumpukkan kematian ini dua hal beda konsekwensi, beda “adab”. Keduanya di awal pasti sama sulitnya. Bisa bikin pembuatnya kaya atau miskin, pinter atau bodo, sepintas sama.

Nah, yang mana yang anda pilih? atau pilihan mana yang sesungguhnya sudah anda ambil?  Anda pasti sudah merasakan akibatnya.

 

 


1] Sebagian orang menyebutnya Negative Space (ruang negatif), atau White Space. Untuk beberapa pertimbangan, saya memilih untuk menyebutnya seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *