Saya pasang siluet wanita berjilbab soalnya novelnya membahas mengenai wanita muslim… saya pasang objek dekoratif di belakangnya juga untuk menyimbolkan sesuatu yang feminin …

Saya ingat betul kalimat yang disampaikan salah satu pelamar desainer kover tersebut ketika saya harus bertanya, terpaksa sebetulnya, karena gambar yang dibuatnya begitu sulit dikenali.

Penjelasan yang sedemikian rupa mengingatkan saya pada banyak kasus dimana mahasiswa-mahasiswa desain atau desainer profesional mencoba menyuarakan mengenai rancangannya.

Jadi, konsep filosofis logo ini adalah , blah, blah blah.

Ah, “Simbolisme” dan Filosofisme itu lagi.

– – –

On Presentation

Ini adalah prilaku yang – meskipun makin jarang saya temui – masih saja terjadi. Presentasi desain dengan pilihan diksi khusus yang barangkali dalam mindset normatif dari pelakunya itu adalah norma(l), atau bahkan keharusan. Mengesampingkan fakta bahwa dalam banyak (kebanyakan) kasus, ini bukan saja jauh dari membantu, namun malah mengaburkan (mengenai ini silahkan disimak di paragraf berikutnya). Dan khususnya yang terakhir; “filosofisme”, betapa ini menunjukkan kedangkalan berpikir.

Apanya dari konsepmu itu yang sebegitu “filosofis”?

Lha iya. Kok bisa ya, dengan pemikiran yang hanya segitu itu mengaku-ngaku diri sudah mengembangkan hal “filosofis”.

Berbagai mekanisme representasi dalam desain sebetulnya saya percaya lebih bisa difahami melalui perspektif metafora. Namun seperti apapun itu teori yang dipilih, pelabelan, atau sekurang ajar atau dangkal pelabelan diri yang dilakukan seseorang, yang lebih penting untuk difokuskan saya kira adalah bagaimana berbagai acuan ini bisa secara valid berorientasi pada calon pengguna.

Dan disitulah letak persoalannya. Pengungkapan seperti diatas yang seringnya menjadi jalan bagi subjektifitas perancang, yang dalam waktu berbarengan mem by-pass pertimbangan mengenai (dan melalui kacamata) pengguna. Dengan kata lain, berbagai pertimbangan mengenai pengguna (dan juga nilai guna) yang justru seharusnya diutamakan jadi sulit diakses.

Di dunia sulap, ini barangkali seperti prestige. Asisten, binatang, atau barang-barang apapun yang dikembangkan oleh pesulap. Melalui keberadaan objek-objek ini pemirsa dibuat tercengang atau muak, sehingga melewati hal substansial.

Mungkin bagi beberapa orang ini seksi. Namun bagi saya ini ini usaha yang naif, kurang kreatif, atau setidaknya klise dalam memandang dan mengekspresikan desain.

– – –

On Methods

Terkadang saya pikir ini adalah fenomena ekspresi dan rasionalisasi desain. Anda tahu kan, terkadang beberapa orang sulit, atau keliru membahasakan proses atau pertimbangan, sehingga apa yang diekspresikan tidak akurat dalam memotret apa yang dimaksud dan dikerjakan.

Namun seringnya ini memang menggambarkan secara akurat apa yang terjadi dibaliknya, bahwa indeed, cara berpikir yang berlebihan di satu sisi seperti itulah yang melandasi proses perancangan. Satu proses yang bukan saja mengesampingkan sisi pengguna, namun juga pertimbangan lain: bentuk dan persepsi.

– – –

Saya tidak ingin panjang lebar menerangkan tentang persepsi. Silahkan dibaca di wikipedia saja atau simak sebagian kecilnya dari artikel ini. Tapi secara umum, bila simbolisme adalah mengenai

what’s important?

Bentuk, atau yang selanjutnya diproses oleh manusia melalui persepsi adalah mengenai

does it look (and feel) important?

Saya bisa mengajukan satu hal misalnya: daun, sebagai simbolisme dalam ilustrasi, desain logo, desain kover, poster atau lainnya. Dan sungguh percuma bila itu bukanlah hal yang selaras pentingnya di kacamata pengguna (sehingga ini gagal menjaring perhatian calon pengguna), dan lebih keterlaluan lagi bila itu sungguh tidak nampak seperti daun.

Perancang, dengan dibantu oleh tim dan berbagai sumber daya terkait, adalah profesional yang memastikan terbentuknya hal tersebut secara solid. Apapun komponen dalam proses desain, seharusnya adalah usaha untuk mengenali, mendudukkan, dan memerankan berbagai pertimbangan tersebut dalam porsinya.

Dan alas, ini hal yang paling klise luputnya dalam “Simbolisme” dan Filosofisme semacam ini.

– – –

On Drama

Let’s save the best for last. Yang juga menarik dari situasi ini bagi saya juga adalah “drama” diantaranya. Serius. Ini hal yang beberapa tahun yang lalu mungkin tak saya sadari betul, namun makin hari semakin saya bisa nikmati.

Betapa dibalik kekacauan ini adalah sang perancang atau presenter desain yang nampak sebegitu bergaya dan percaya diri. Ini sebetulnya bukan persoalan, karena bagaimanapun tak mungkin bisa terbangun suasana kreatif tanpa kepercaya dirian yang memadai, dan yang lebih jadi persoalan sebetulnya adalah “isinya”.

Atau betapa setelah sepersekian detik atau menit setelah presentasi dengan pilihan diksi normatif tersebut dilakukan, berbagai ekspresi subtil dalam berbagai intensitasnya, mengkombinasikan makna yang kurang lebih berarti:”WTF is that?”, “Lets don’t care about that?”, “Oh yes, that is normal” dan lain sebagainya.

Atau betapa kemudian kecohan (prestige) ini  really works. Tak ada seorangpun yang kemudian berminat dan berniat untuk memandang persoalan desain dalam kacamata lain, baik itu pengguna, juga bentuk dan persepsi.

Sungguh, menyimak drama dan membandingkannya dengan apa yang bercokol dibaliknya adalah hal yang menghibur. Saya bisa tetap dalam ruangan sambil nyengir sendiri, menikmati pertunjukkan sampai akhir, atau keluar ruangan karena sudah tak tertahankan mualnya. Apapun itu, bagi saya, bila ada komponen yang berhasil dalam “taktik” Simbolisme dan Filosofisme ini, adalah sisi dramatisnya.

– – –

Mengurutkan desain agar ke-penting-annya sesuai dengan pengguna itu krusial. Menerjemahkan bentuk yang selaras dengannya sungguh tak terelakkan. Yang paling menarik bagi saya, di sepanjang pengalaman saya barangkali adalah kenyataan bawah hal-hal tersebut biasanya dicapai justru saat drama reda.

~ Sekian ~


Ikon artikel: Magician and Rabbit by Gan Khoon Lay from the Noun Project

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *